Monday, March 27, 2006

Kebutuhan Manusia Akan Rasul




وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا" النساء:69"

“Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin[314], orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya”.

Ibnu Qayyim berkata : kebutuhan manusia yang utama adalah mengenal para rasul dan ajaran yang dibawanya, percaya akan berita-berita yang di sampaikan dan taat pada yang di perintahkan. Sebab tak ada jalan untuk menuju kebahagian dunia dan akhirat kecuali dengan tuntunan para rasul.

Ibnu Taimiyah berpendapat : risalah merupakan kebutuhan pokok bagi manusia, kebutuhan yang terpenting dari pada penting. Risalah hakikatnya adalah merupakan ruh alam, menjadi cahaya dan kehidupan. Apa kiranya manfaat alam bila tidak mempunyai ruh, kehidupan dan cahaya.

Kebutuhan Pada Rasul :

1. Fitrah
Fitrah manusia adalah
- Keinginan manusia untuk mengabdi kepada khaliq
- Mengakui bahwa Allah sang Pencipta
- Keinginan manusia untuk hidup teratur

a. Wujud al Khaliq (Keinginan manusia untuk mengabdi kepada khaliq)
Pernjanjian manusia kepada khaliq (pencipta) ketika dalam rahim ibunya adalah “Alastu birabbikum, Qollu bala syahidna”.

Demikian halnya ketika orang Quraisy ditanya tentang siapa pencipta langit, bulan, bintang dan sebagainya maka di jawab mereka Allah yang telah menciptakannya.

Orang kafir jahiliah ketika ditanyakan siapakah yang mempunyai bumi dan semua makhluk yang ada diatasnya? Siapakah yang mempunyai tujuh langit? Maka mereka menjawab Allah.

Hal ini menunjukkan bahwa Allah sebagai Rabb diakui dan di yakini oleh setiap manusia, tetapi tidak semua mengakui Allah itu sebagai Ilah (Tuhan).

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ" الاعراف : 172

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi." (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)",

Prof Harshell, seorang ahli falak bangsa inggris berkata “ Setiap bidang ilmu pengetahuan itu semakin luas, maka semakin bertambahlah bukti-bukti yang memastikan dan lebih mengkokoh perihal adanya dzat yang Maha Menciptakan. Juga Maha Dahulu dan tidak ada batas KekuasaanNya dan pula tidak akan habisnya yaitu kekal abadi untuk selama-lamanya.

Dr. Wets, seorang ahli kimia perancis mengatakan “Jikalau suatu ketika aku merasa bahwa keimananku kepada Allah agak kurang mantap dan agak tergoncang, maka segeralah aku menunjukkan arah perhatianku kepada ilmu pengetahuan agar keimanan itu kembali kokoh dan kuat.

b. Ibaadah al Khaliq (Mengabdi Kepada Pencipta)
Manusia secara umum mendapat perintah dari Allah untuk mengabdi kepadaNya. Pengabdian kita kepada Allah sebagai hasil dan akibat dari pengakuan kita kepada Allah sebagai pencipta. Mengakui pencipta berarti mengakui apa yang disampaikanNya, menerima perintahnya dan menjalankan undang-undangNya.

Fitrah manusia selain mengakui adanya Tuhan pencipta juga ada kecenderungan individu untuk mengabdi kepada sesuatu. Sesuatu disini bisa jadi kepada makhluk misalnya kepada manusia atau benda-benda. Oleh karena itu bentuk pengabdian yang benar adalah menyembah kepada Khaliq bukan kepada makhluk.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تتقون

"Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa”. Al Baqoroh : 21

فَإِنْ تَوَلَّيْتُمْ فَمَا سَأَلْتُكُمْ مِنْ أَجْرٍ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى اللَّهِ وَأُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Jika kamu berpaling (dari peringatanku), aku tidak meminta upah sedikitpun dari padamu. Upahku tidak lain hanyalah dari Allah belaka, dan aku disuruh supaya aku termasuk golongan orang-orang yang berserah diri (kepada-Nya)." Yunus : 72



Rasul bersabda “ Hendaklah kamu menyembah Allah seolah-olah engkau melihatNya, sekiranya engkau tidak melihatNya, sesungguhnya ia melihatMu” HR. Muslim

c. Al Haayah al Munazhamah (Hidup yang Teratur)
Petunjuk dari Allah adalah untuk memandu manusia untuk kearah yang baik. Semua perintah dan bimbingan dari Allah adalah baik bagi manusia yang diciptaNya, karena sesuai dengan fitrah manusia.

Mengikuti panduan Allah maka hidup akan teratur, maka tatkala kita tidak berpihak kepada panduan Allah mengikuti hawa nafsu makan akan tersesat dan hidup tidak teratur. Contoh nyata mengikuti perintah Allah adalah bagaimana mengikuti gaya hidup nabi dalam kesehariannya.


فَإِنْ لَمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءَهُمْ وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِنَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ القصص : 50"

“Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu) ketahuilah bahwa sesung- guhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”.




Monday, February 06, 2006

Realisasi Ketaatan Dengan Istiqomah

عن أبي عمرو سفيان بن عبدالله الثقفي ، رضي الله عنه قال : قلت : " يا رسول الله ، قل لي في الإسلام قولا ، لا أسأل عنه أحدا غيرك " قال : ( قل آمنت بالله ، ثم استقم ) رواه مسلم في صحيحه

Dari Abi Amr, dan kata yang lain, Abi Amrah sofyan bin Abdillah ra telah berkata: Aku telah berkata, Hai Rasulullah katakanlah kepadaku tentang Islam, sebuah perkataan yang tak dapat
kutanyakan kepada seorangpun kecuali kepadamu. Rasulullah bersabda: "Berkatalah engkau; Aku telah beriman kepada Allah, kemudian beristiqomah (belaku jujurlah engkau)".

Tujuan dari insan muslim adalah bagaimana memperjelas arah tujuan hidupnya menuju Allah. ٍٍSebagaimana kita mencoba untuk meminta kepada sang pencipta agar di tunjukan ke jalan yang lurus selalu dilantunkah dalam setiap sholat. Tidak lain adalah untuk mencapai kebahagian dunia dan akhirat.

Hadist yang sedikit sekali lafazdnya namun begitu dahsyat makna yang terkandung didalamnya. Mengarahkan kepada metode untuk menjadi insan mu'min yang sempurna. Menjelaskan kepada sebuah minhaj (metode) mengajak kepada sebuah fokus dari kaidah yang
terpenting yaitu beriman kepada Allah قل آمنت بالله. Inilah sebuah unsur yang dapat merubah sisi kehidupan manusia baik secara akhlak, visi, misi, hati.
Untuk menggapai istiqomah adalah dengan hati yang suci menerima dengan ridha hukum dan syariat Allah turunkan. Jika hati sudah tentram dan tenang menyambut seruan Allah maka akan diberikan nur hidayah padanya. Hidup lebih aman tenang, nyaman dan bahagia. sebagaimana firman Allah :

أو من كان ميتا فأحييناه وجعلنا له نورا يمشي به في الناس كمن مثله في الظلمات ليس بخارج منها } الأنعام : 122)

Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan.

Apa bila insan manusia merasakan manisnya iman, manancap akar iman di hatinya. Mampu untuk memilih dan menilai kebenaran yang hakiki menurut ketentuan dan keridhaanNya. Pancaran iman tersebut melahirkan amal shaleh dalam kehidupan, namun bila iman tidak di sertai dengan amal perbuatan bagaikan buah tanpa pohon.
Maka dalam hadist disebutkan ثم استقم sungguh derajat keimanan dibarengi dengan istiqomah.
Istiqomah adalah buah dari nilai keimanan yang sesungguhnya. Hakikat darinya adalah menjaga hamba Allah dalam koridor fitrah yang Allah berikan kepadanya. Menuai nur ilahi dan menjaganya dari maksiat dan syahwat, berpegang teguh kepada tali Allah.

Sebagaimana Ibnu Rajab mengatakan " Istiqomah pada jalan yang lurus yaitu agama yang kuat tanpa menyimpang ke kiri dan ke kanan, mencakup didalamnya adalah sebuah perbuatan taat
menyeluruh baik secara zahir dan batin. Meninggalkan seluruh larangannya". Sebagaimana tertera dalam quran :

فأقم وجهك للدين حنيفا فطرة الله التي فطر الناس عليها لا تبديل لخلق الله ذلك الدين القيم ولكن أكثر الناس لا يعلمون

Ar Rum : 30
Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah.
(Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui".
Allah memerintahkan kita untuk selalu istiqomah sebagaimana tertera dalam al quran diantaranya فاستقم كما أمرت ومن تاب معك (hud:112). Menerangkan bagaimana hidayat Allah itu bagi hambanya yang mukmin selalu berusaha untuk menuju jalan istiqomah. sebagaimana firmanya : وإن الله لهاد الذين آمنوا إلى صراط مستقيم (al Haj:54). Menjadikan quran sebagai sumber hidayat bagi setiap manusia dalam firmanya : كتاب أنزلناه إليك لتخرج الناس من الظلمات إلى النور بإذن ربهم إلى صراط العزيز الحميد (Ibrahim : 1)

Walaupun istiqomah menuntut dari hambanya untuk benar-benar bertaat padaNya, bukan berarti jalanya mulus dalam menggapai dan memelihara ketaatan tersebut. Banyak sekali rintangan dan cobaan dalam mengarungi samudra ketaatan. sebagaimana Allah mengumpulkan perkara istiqomah dan istighfar dalam firmannya :فاستقيموا إليه واستغفروه (Fushilat : 6).
Menunjukkan kepada kesungguhan untuk beristiqomah, dan ketika ia lalai atau ada rintangan di tengah perjalanan menuju samudra taat maka jalan satu-satunya adalah melakukan tindakan betaubat. Beristighfar kepada Allah meminta ampun atas kelalaian yang di perbuat. Maka Rasulullah menegaskan : (استقيموا ولن تحصوا (رواه أحمد
Maksud yang sesungguhnya adalah bagaimana memaksimalkan usaha untuk selalu tetap dalam jalan Allah, berbuat sesuat dengan minhaj (metode) yang Allah ridhai. Semampunya bagi insan
muslimin dimanapun berada. Berbuat dan bertindaklah sesuai kehendak Allah. Allah akan memberikan kemudahan rezki dan keberkahan dalam hidup. Sebagaimana firmannya :
وأن لو استقاموا على الطريقة لأسقيناهم ماء غدقا

Surat jin : 16
Dan bahwasanya: jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezki yang banyak).
Kesinambungan pertolongan Allah kepada hamba-hambanya yang istiqomah dijalannya hingga menemui Rabbnya.
Mereka yang istiqomah akan selalu tetap (tsabit) kepada kalimat tauhid hingga mereka meninggalkan dunia. Sebagaimana firmanya :

ان الذين قالوا ربنا الله ثم استقاموا تتنزل عليهم الملائكة ألا تخافوا ولا تحزنوا وأبشروا بالجنة التي كنتم توعدون ، نحن أولياؤكم في الحياة الدنيا وفي الآخرة ولكم فيها ما تشتهي أنفسكم ولكم فيها ما تدعون ، نزلا من غفور رحيم

Fushilat : 30-32

30. Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka
dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu."

31. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta.

32. Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Apabila kita ingin merealisasikan keistiqomahan dalam ranah tindakan maka yang terpenting adalah bagaimana mengistiqomahkan hati dahulu. Karena Hati adalah raja dari seluruh badan, dikala hati itu baik takut kepada Allah, cinta kepadaNya. Maka anggota badan akan taat kepada Allah. Kemudian setelah hati itu istiqomah di ikuti dengan istiqomah lanjutnya tidak kalah
penting yaitu istiqomah lisan. Karena lisan adalah pembuktian dari apa yang ada dalam hati.

Kita meminta kepada Allah agar memberikan kita hidayah kepada jalan yang lurus, jalan para nabi, saddiqin, syuhada dan shalihin. Amin

Monday, January 30, 2006

Indahnya Syahid

Dari Abu Tsabit, ada yang mengatakan Abu Sa'id, apa pula yang mengatakan Abu Walid Sahl bin Hunaif, dia adalah ahli Badar ra bahwasannya nabi saw bersabda
"Barangsiapa yang benar-benar mohon untuk mati syahid kepada Allah ta'ala niscaya Allah akan mengabulkan ke tingkatan orang mati syahid walaupun ia mati diatas tempat tidurnya". HR Muslim


Mati syahid adalah merupakan kemulian yang tertinggi yang dapat di raih oleh seorang muslim. Cita-cita yang amat dinanti-nantikan bagi mereka yang merindukan untuk menemui Allah dengan mempersembahkan kemuliaan yang harapkan.

Kedudukan syahid adalah martabat yang tinggi setelah orang-orang yang jujur. Mereka yang syahid digolongkan bersama para nabi, orang-orang yang jujur dan sholihin. sebagaimana firman Allah An Nisaa : 69

قال الله تعالي " من يطع الله والرسول فأولئك مع الذين أنعم الله عليهم من النبيين و الصدقين والشهــــداء والصالحين
"Dan barang siapa mentaati Allah dan rasulNya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat Allah, yaitu : Nabi-nabi, para siddiqin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh".

Orang mendapat gelar mati syahid itu bermacam-macam :

1. Para ulama tafsir menafsirkan kalimat "والشهـــداء" dikatagorikan kepada mereka para ulama yang mengajarkan syariat Islamiah dan meninggikan hukum Allah, menerangkan halal dan haram, hukum wajib, sunnah, haram, makruh. tiada yang mengetahui akan hal tersebut kecuali orang-orang yang ahli ilmu. Maka para ulama atau ahli ilmu agama Islam dimasukkan kepada syuhada.

2. Mereka yang menerima musibah atau cobaan dengan terbunuh, terbakar, tenggelam dan semisalnya.

3. Mereka yang terbunuh dalam menegakkan kalimattullah.

4. Mereka yang terbunuh dalam membela harta dan jiwanya. sebagaimana sabda nabi ketika ditanyakan seseorang " Ya Rasul apabila datang kepada saya seseorang meminta harta, rasul berkata: jangan diberikan, dia berkata" bagaimana jika menyerang saya? rasul berkata: balaslah menyerang. dia berkata: bagaimana kalau saya membunuh orang itu? nabi berkata: maka dia masuk neraka-karena dia telah melakukan kezholiman-. dia berkata: bagaimana kalau saya terbunuh? rasul berkata: apabila kamu terbunuh maka kamu mati syahid.

Rasul juga bersabda " من قتل د ون مالــه و أهله فهو شهــــيد" barang siapa yang terbunuh membela harta dan keluarganya maka ia syahid".

5. Mereka yang terbunuh akibat terzholimi. yakni apabila manusia menzholimi dan menyakiti sehingga meninggal atas kezholiman seseorang, disebut juga mati syahid.

Tertinggi dari predikat syahid atau syuhada, adalah mereka yang berperang dalam meneggakkan kalimat Allah. sebagaimana Allah berfirman :

"Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikanNya kepada mereka. dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal dibelakang yagn belum menyusul mereka. bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia yang besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman" Al Imran : 169-171

Mereka yang berperang dalam rangka meneggakan kalimat Allah akan selalu diberikan janji Allah mendapatkan gelar syahid. Demikianlah profit yang berikan bagi mereka-mereka yang selalu berjuang di jalan Allah. Tidak akan tertukar gelar itu untuk mereka yang benar-benar yakin dan berjuang.

Apa bila seorang hamba meminta kepada Rabnya dan berkata : " Demi Allah aku meminta syahid di jalan Mu ya Rabb". Sementara dia tidak mengikuti perjuangan dijalan Allah agar kalimatNya tertegak. Bila Allah mengetahui kebenaran niat dan perkataannya, maka akan diberikan gelar syuhada. Walaupun meniggal diatas kasurnya.

Timbul pertanyaan jika mereka yang berperang membela negaranya, apakah disebut dijalan Allah atau tidak?
Adapun mereka yang berperang membela negaranya dikarenakan negara tersebut berbentuk Negara Islam maka di golongkan kepada berjuang dijalan Allah. Karena alasanya adalah agar kalimat Allah itu eksis.

Sedang jika berperang hanya untuk melindungi negara saja, bukanlah disebut berjuang dijalan Allah. Karena tidaklah sesuai dengan kehendak nabi, yaitu berjuang agar kalimat Allah tertegak. Itulah standar tolak ukur bagi yang berjuang di jalan Allah.

Tuesday, January 10, 2006

Allah Cemburu Kepada Hambanya

Dari Abu Hurairah ra nabi saw beliau bersabda : "Sesungguhnya Allah ta'ala itu cemburu, dan cemburunya Allah ta'ala yaitu apabila seseorang yang melakukan perbuatan-perbuatan yang di haramkan oleh Allah". HR Bukhari dan Muslim.

Ada hal yang seharusnya kita sebagai hamba Allah mengetahui mana yang disukai olehNya dan apa yang tidak disukainya. Mana saja amalan yang dengannya mampu meninggikan ketaqwaannya dan apa saja perbuatan yang dapat menghinakan diri kita di hadapan Allah.

Masalahnya adalah mampukah kita untuk konsisten di jalan Allah? yakinkah kita bahwa segala perbuatan yang kita lakukan itu mampu menyelematkan kita dari kehinaan dan kemurkaan Allah? Sampai dimana kesadaran untuk melakukan segala amal ibadah tanpa didasari rasa keterpaksaan?

Zaman Rasul dan para sahabat ada kebiasaan-kebiasaan yang sarat dengan antusias dilakukan oleh mereka. Kebiasaan baik mereka lakukan sudah terbiasa tanpa ada paksaan, dilakukan dengan senang hati. Sungguh mereka berlomba-lomba dalam kebaikan dalam rangka menggapai cinta Allah. Maka tidak heran kalau mereka selalu saja mempersembahkan yang terbaik buat Allah dan sesama muslim.

Kebiasaan yang baik selalu dipelihara dan terlestarikan, seperti :
a. Sholat berjamaah, para sahabat tidak ada yang bertentangan mengenai kebiasaan ini, kecuali orang munafiq atau sakit karena udzur. Akan tetapi manusia banyak yang melupakan dan enggan untuk sholat berjamaah. Bahkan tidak sedikit manusia yang hidup dizaman modern ini tidak melaksanakan sholat, meninggalkan sholat sudah hal biasa. Terlebih-lebih sholat berjamaah, lebih suka sholat sendiri dibandingkan berjamaah. Ada juga manusia yang sholatnya selalu mepet waktunya, pelit sekali untuk beribadah kepada Allah. Sholat zuhur dekat ke ashat, subuh dekat ke duha. Sementara kebiasaan menunda sholat hingga waktu sedikit lagi habis, tidak sholat berjamaah, meninggalkan sholat di zaman rasul dan para sahabat merupakan kerugian yang terbesar, hingga pada derajat termasuk hal-hal yang merusak agama.

b. Berbuat curang, pada zaman nabi disabdakan "من غش فليس مني" Barang siapa yang berbuat curang bukan dari kami (umat Nabi Muhammad)".
Pada masa kini, orang mempunyai ketrampilan khusus dalam berdagang. Mereka yang ahli dan profesional, tidak mau berterus terang kepada mereka yang tidak mempunyai ilmunya. Bahkan mereka merasa pintar dengan kecurangannya, mengelabui orang yang tidak tahu kemudian dijual barangnya sehingga cacat barang tersebut tidak di ketahui. itulah salah satu ketrampilan khusus yang dimiliki para pedagang profesional yang mengakui dirinya pintar dengan mengelabuhi pembeli.

c. Berbuat bohong, adalah hal yang merusak agama pada zaman rasul. Sementara insan masa kini kerap kali dengan bohong. Membiasakan diri untuk berbohong, yang ironisnya lagi mereka merasa tenang dengan perbuatannya. Rasul bersabda:

"لا يزال الرجل يكذب و يتحري الكذب حت يكتب عند الله كذابا"

"Seseorang tetap dikatakan sebagai pembohong hingga Allah menulisnya pembohong".

Berbohong untuk menghasilkan apa yang diinginkan bagi sebagian orang syah-syah saja. Malahan bangga ketika kebohongannya itu berhasil dan dia menjadi terkenal. atau mereka yang memberikan kesaksian di pengadilan, dengan kebohongannya dia senang dapat menjebloskan lawannya kedalam penjara. Ada juga yang mampu berbuat bohong kepada rekan kerjanya dalam menggolkan proyek-proyek, sampai teganya memfitnah bahkan hingga dia terpuruk barulah merasa puas.

Rasul bersabda "محارمه" atau hal-hal yang dilarang oleh Allah.
Berbicara tentang cemburunya Allah kepada insanya bila berbuat maksiat. Cemburu merupakan sifat yang benar-benar tetap bagi Allah, namun sifat cemburu tidak sama dengan manusia. Lebih menyukai kepada hal-hal yang telah di halalkan dan tidak menyukai hal diharamkan olehNya.

Apa yang telah di wajibkan bagi hambanya adalah terbaik bagi mereka, baik di dunia ataupun di akhirat. Masa kini ataupun
yang akan datang, semua telah di prediksikan oleh Allah dan telah di ciptakan begitu sempurna.

Apabila Allah melarang hambanya terhadap sesuatu yang diharamkan, sesungguhnya Allah cemburu ketika mereka melakukan kemaksiatan yang jelas telah di larang. Bagaimana bisa manusia melakukan kemaksiatan yang Allah telah melarangnya, Allah melarang bukan lain adalah untuk kemaslahatan hambanya, bukan karena Allah membenci dan zholim. Ketahui bahwa tidaklah merugikan Allah terhadap kemaksiatan yang hamba lakukan.

Monday, January 09, 2006

Berbuatlah Jika Tidak Malu



عن أبي مسعود رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ( إن مما أدرك الناس من كلام النبوة الأولى : إذا لم تستحي فاصنع ما شئت ) رواه البخاري
Dari abi Mas'ud Ukbah bin Amr al Anshari al Badri ra telah berkata : Telah bersabda rasulullah SAW : "Sesungguhnya dari apa yang telah di ikuti oleh manusia dari kata-kta kenabian yang pertama ialah: "Jika engkau tidak malu, berbuatlah sekehendakmu". HR Bukhari

Malu adalah hiasan bagi diri setiap muslim, mahkota bagi akhlak dirinya.
Adalah bukti yang jelas dan nyata terhadap cermin pribadi yang bersih imannya. Sehingga menjadi sebuah identitas bagi pemilik akhlak yang bersih mengantarkan dirinya ke surga. Sebagaimana sabda nabi "Malu adalah sebagian dari iman, dan yang beriman tempatnya di surga".

Hakikatnya malu adalah sebagian cabang dari ketaqwaan diri. Konsekwensi dari ketaqwaan itu adalah bagaimana menampilkan sebuah prilaku baik dalam setiap sisi kehidupan. Dengan berakhlak baik mampu melindungi dari sifat keburukan dari dirinya. Karena yang terpikir dalam dirinya yaitu bagaiman selalu menampilkan kebaikan pada dirinya.

Kenikmatan seorang ketika berakhlak mulia akan terpancar dari jiwa yanga bertaqwa, semua itu adalah upaya dalam rangka merasakan kedekatan seorang hamba kepada RabNya.
Sebagaimana rasulullah telah mengajarkan kepada kita bagaimana mempunyai akhlak mulia. Sehingga Abu Said al Hudriyi ra mengungkapkan indahnya akhlak rasul menjaga rasa malu dengan "Bahwa Rasulullah orang yang paling malu diantara para gadis"

Sungguh uswah atau teladan yang mestinya diikuti. Begitulah para nabi terbimbing dengan akhlak yang mulia. Maka bukanlah sebuah keasingan jika malu adalah wasiat dari para anbiya. Sebagaimana para nabi menyampaikan kepada umatnya untuk menghiasi rasa malu.

Malu itu bermacam-macam:
A. Malu berbuat jahat artinya malu untuk berbuat dosa walau sekecil apapun. itu akan terbesit dari seseorang hamba yang enggan untuk melanggar perintah Allah.

Imam Ibnu Hambal mengunkapkan :

Apabila aku berkata kepada RabKu Sungguh malu atas maksiat yang ku perbuat

Menyembunyikan dosa dari penciptaku Dengan penuh kelalaian aku datang kepadamu Rabku

B. Malu yang terlahir dari hamba yang mengetahui kebesaran Allah, sempurna sifatnya. Inilah yang mendorongnya kepada rasa atas muroqobatullah (pengawasan Allah) terus menerus. sebagaimana di ungkapkan dalam syair :

"Janganlah melihat kepada sebuah kecilnya dosa, tapi lihatlah kepada besarnya kemaksiatan ygan dilakukan".

c. Malu kewanitaan, yaitu malu yang terhias pada wanita yang telah diciptakan untuknya. Sebagaimana telah di ungkapkan oleh Aisyah "Aku masuk kerumah yang di kuburkan disitu rasulullah dan ayahku. Maka aku meletakkan (menanggalkan) pakaianku. Aisya berkata: sungguh rasul dan umar (suami dan ayahku) ketika Umar di kuburkan bersama rasul, demi Allah tidaklah aku masuk kecuali dengan lengkap. karena malu dengan Umar".

Apabila telah sempurna malu seorang hamba, malu dengan Allah dan manusia. Maka akan di golongkan rasa malunya seperti para malaikat. sebagaimana dalam hadist " barang siapa yang memakan bawang merah, bawang putih dan bawang bakung (bawang perai) janganlah mendekati masjid, sesungguhnya para malaikat merasa tersakiti sebagaimana tersakiti para anak adam" HR Muslim

Telah mengkristal akhlak perbuatan dalam diri nabi, marilah bersama untuk melatih rasa malu dalam jiwa kita sebagaimana dalam hadist di riwayatkan Abdulah ibnu Masud, Rasulullah bersabda "Malulah kepada Allah dengan sebenar-benar malu". Kami berkata: "wahai rasulullah kami malu dan alhamdulillah. Rasul berkata: "bukan itu, tetapi malulah kepada Allah dengan benar-benar malu dengan menjaga kepala serta kesadarannya, menjada perut dan nafsunya, mengingat mati dan kehancuran. Barang siapa yang menginginkan akhirat tinggalkanlah perhiasan dunia, barang siapa yang telah mengerjakannya maka telah malu kepada Allah dengan sebenar-benarnya". HR Tirmidzi

Adalah kelemahan kita sebagai umat muslim di era globalisasi banyak terimbas dengan gaya westernisasi sehingga rasa malu itu pudar seikit demi sedikit. Tidak tampak dengan jelas identitas seorang muslim dengan non muslim. Baik dalam cara berpakaian, pemikiran, tingkah laku dan kecenderuangan. Semua negara muslim hanyut dengan propaganda western, sehingga hilanglah diri mereka di telan oleh gelombang ghazwul fikri.
وَلاَ تَهِنُوا وَلاَ تَحْزَنُوا وَأَنتُمُ الأَعْلَوْنَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ
"Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman". 3:139

Sunday, December 18, 2005

Antara Shalat Dan Iffah

Dari Abu Sufyan Shakhr bin Harb r.a di dalam hadistnya yang panjang tentang cerita Heraklius, dimana Heraklius bertanya : "Apa saja yang diperintahkan oleh Nabi SAW kepada kamu?". Abu Sufyan berkata : "Nabi SAW bersabda: "Sembahlah Allah zat yang Maha Esa dan janganlah kamu mensekutukan apapun denganNya. tinggalkanlah ajaran-ajaran nenek moyangmu, serta beliau menyuruh kami untuk melaksanakan shalat, jujur, pemaaf dan menghubungkan sanak kerabat (silaturrahmi)" HR Bukhari dan Muslim

Abu Sufyan adalah sahabat yang terlambat memeluk Islam, ketika pada peristiwa Sulhu Hudaibiah dan Fathu Makkah. Sulhu Hudaibiah terjadi pada tahun ke enam hijriah dan Fathu Makkah pada tahun ke delapan hijriah.

Abu Sufyan hendak pergi ke Syam bersama rombongan kaum Qurais ingin bertemu Heraklius. Dia adalah raja Nasrani, masa itu dia juga sudah membaca injil dan taurat. beliau adalah raja yang genius. Maka dia memanggil Abu Sufyan untuk menanyakan beberapa hal mengenai bagaimana kabar nabi, keturunannya, sahabatnya, loyalitasnya.

Bertanya juga kepada Abu Sufyan tentang apa saja yang diperintahkan nabi kepada kaum Muslim, dijawab olehnya "Diperintahkan mereka untuk menyembah Allah yang Esa, tidak menyekutukannya dengan apapun. Tidak menyembah selain Allah artinya: tidak menyembah raja, Rasul, pohon, batu, matahari, bulan dll.

Ibadah menyembah Allah yang Esa, perintah yang datang kepada nabi Saw adalah juga telah datang kepada rasul-rasul sebelumnya. sebagaimana firman Allah :

"وَمَا اَرْسَلنَاكَ ِمنْ قـَبْلِكَ ِمنْ رَّسُولٍ إِلاَّ نوحي إليه أنه لا إله إلا أنا فاعبدون " الأنبياء:25

"Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepdanya: "Bahwasannya tidak ada Tuhan (yang hak) melalinkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian aku". Al Anbiya : 25


"ولقد بعثنا في كل أمة رسولا أن اعبدوا الله واجتنبوا الطاغوت" النحل : 36

"Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul apda tiap-tiap umat(untuk menyerukan): "Sembahlah Allah saja, dan jauhilah Thaghut". An Nahl : 36

Dan rasul berkata kepada Umatnya "اتركوا ما كانا عليه آباؤكم" seluruh ajaran nenek moyang mereka harus di tinggalkan, seperti menyembah patung. sementara akhlak yang mulia dari mereka harus tetap di jaga. Hasil dari dakwah dan seruan nabi yang jelas dan gamblang kepada umatnya, untuk meninggalkan kesyirikan sebagaimana yang telah di lakukan oleh nenek moyang mereka, adalah tujuan yang paling utama dari dakwah rasul.

Rasul bersabda "وكانا يأمرنا بالصلاة" bahwa shalat adalah hubungan antara hamba dan Allah. Merupakan rukun Islam yang kedua setelah syahadat, dengan sholat akan membedakan antara kafir dan mukmin. juga sebagai perjanjian antara musyirikin dan kafirin adalah sholat, barangsiapa yang meninggalkan maka dia telah kafir.

sebagaimana sabda rasul "العهد بيننــا و بينهم الصلاة فمن تركها فقد كـــفر" "Perjanjian diantara kita dan mereka adalah sholat, barangsiapa yang meninggalkannya maka ia telah kafir" maksud dari kafir disini adalah benar-benar kafir keluar dari agama.

Sholat adalah seluruh perbuatan yang apabila ditinggalkan maka akan kafir, betapa urgensinya sholat bagi seorang muslim. jika manusia meninggalkan puasa Ramadhan dengan makan dan minum siang hari maka tidak dikatakan dia kafir. tapi kalau meninggalkan sholat maka kita menyebutnya adalah kafir. jika meninggalkan zakat juga tidak dinamakan kafir, tapi bila sholat ditinggalkan itu disebut kafir. demikian mereka yang tidak mampu untuk melaksanakan haji tidak disebut kafir. tapi yang meninggalkan sholat disebut kafir.

Abdullah ibn Syaqiq (Tabiin yang mashur) mengatakan "Para sahabat rasul SAW mereka tidak melihat dari segala perbuatan yang menimbulkan kekafir kecuali meninggalkan sholat".

Sabda rasul "العفاف" atau Iffah yang berarti suci. Iffah itu ada dua macam:

1. Iffah dari syahwat kemaluan yaitu menjauhi segalah apa yang di haramkan sehingga menimbulkan zina. karena Allah telah berfirman :

"ولا تقرب الزني إنــه كان فـاحسة وســاء سبيلا" الإســـراء : 32

"Dan janganlah mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk". Al Israa : 32

Semua sarana yang membuat kepada zina, yaitu zina hati, pendengaran, penglihatan, tangan dan mulut. sedini mungkin harus di hindari, walau sekecil apapun bentuknya. Dari hal yang kecil itulah akan menjadikan perbuatan zina yang lebih besar. Yaitu zina kemaluan. apabila ini telah terjadi maka bahaya yang paling besar, sudah jelas bagi kita bahwa tidak mungkin akan terjadi dosa besar, tanpa didasari oleh prihal yang kecil.

2. Iffah dari syahwat perut. atau mengharapkan kasihan orang dengan meminta-minta. maka Allah berfirman "يحسبنهم الجــاهل أغنيـــاء من التعفف"

"Orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta" al Baqarah : 273

Penjabarannya adalah bagi mereka yang menjaga kesucian dirinya untuk tidak meminta-minta kepada orang lain. menggantungkan dirinya kepada orang lain, punya keinginan hanya selalu meminta. Tangannya tidak pernah diatas. Orang yang suka memberi lebih mulia dibandingkan tangan yang di bawah. Boleh meminta kepada orang lain, jika kondisinya memang benar-benar terpaksa dan sangat membutuhkan sekali dalam kondisi darurat maka di perbolehkan.

Masihkan Kita Perlu Berbohong?

Dari Ibnu Mas'ud r.a dari Nabi saw beliau bersabda " Sesungguhnya jujur itu membawa kepada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan itu membawa ke surga, seseorang itu akan selalu bertindak jujur sehingga ia ditulis di sisi Allah sebagai orang yang sangat jujur. Dan sesungguhnya dusta itu membawa kepada kejahatan dan sesungguhnya kejahatan itu membawa ke neraka, seseorang akan selalu berdusta sehingga ia ditulis di sisi Allah sebagai pendusta " HR Bukhari dan Muslim

Jika berbicara tentang jujur dan bohong, maka banyak hal yang membuat manusia seakan gerah membicarakannya. Karena dizaman ini kalau jujur itu buntung, jujur itu miskin, jujur itu selalu terbelakang. Nipu dikitlah, biar semua urusan lancar dan sukses. Apalagi kalau bohongnya itu untuk kemaslhatan pribadi, dan menyikut orang lain. Biarin ajah deh, yang penting diriku selamat.

Kenapa harus jujur, itulah pertanyaan yang menggelitik. Apakah orang jujur itu merugi. Dan orang yang bohong itu selamat. Sebagian orang awam mengatakan bahwa bohong itu akan selamat. Tapi saudara muslim yang baik dan punya tanggung jawab kepada Allah akan mengatakan "orang jujur lebih selamat dan berkah".

Khabar (berita) itu ada yang disampaikan dengan lisan dan arkan. Dengan lisan adalah dengan perkataan, sedang arkan dengan perbuatan. Demikian halnya dengan jujur. Bila jujur dengan lisan berarti khabar yang disampaikan itu cocok dan benar. Jujur dengan arkan adalah apabila perbuatan anggota badan cocok dan benar dengan apa yang ada dihati.

Albiiru (kebaikan) artinya banyaknya kebaikan, dan juga salah satu Asmaul Husna. Yaitu Al Barru atau banyaknya kebaikan dan ihsan Allah Ta'ala. Sudah barang tentu bahwa birru adalah hasil dari pada kejujuran. Dalam hadist dikatakan "kebaikan itu membawa kesurga". Orang yang banyak berbuat kebaikan maka Allah akan memberikan ganjaran kepadanya surga. Sebagaimana kita idam-idamkan Allah merahmati untuk masuk kesurganya.

Maka dari itu manusia diperintahkan untuk meminta kepada Allah untuk dimasukkan ke surga dan terlindungi api neraka. Firman Allah 3:185 "Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga maka sungguh ia telah beruntung". Rasulullah bersabda " seseorang tidak akan dikatakan jujur hingga Allah menulisnya sebagai orang jujur".

Jujur merupakan martabat ke dua kenikmatan yang Allah berikan kepada hambanya, sebagaimana firmannya 4:69 "Dan Barang siapa mentaati Allah dan rasulNya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu : Nabi-nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang yang shaleh".

Allah juga memberikan keistimewaan bagi wanita yang jujur dalam kehidupannya, sebagaimana firmanNya 5:75 "Al Masih putra Maryam itu hanyalah seorang rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar".

Abu Bakar merupakan sosok sahabat yang meneguhkan kejujuran. Awal ketika diajak untuk masuk Islam maka tidak ada keraguan pada dirinya untuk memeluk agama yang dibawa oleh nabi Muhammad. Beliau orang yang mempercayai nabi ketika kaumnya mendustakan. Juga mempercayai ketika peristiwa Isra dan Mi'raj. Ditanya oleh para sahabat tentang kepergian Nabi dari Makkah ke Quds dalam satu malam, jawabnya beliau "jika memang demikian yang dikatakan nabi, maka aku percaya". Semenjak kejadian itulah maka beliau mendapat gelar as shiddiq.

Tentang bohong (Kazzab) nabi mensinyalir dalam sabdanya " hati-hatilah dengan bohong" karena bohong bisa membawa kesesatan dan kerugian kepada pelakunya. Karena orang bohong itu biasanya akan selalu tidak jujur, karena sudah terbiasa.

Munafiq adalah pembohong, tampaknya dia seorang muslim namun sesungguhnya kafir. Karena dia berbohong dengan perbuatannya, maka disebut sebagai orang pembohong. Lisannya mengatakan muslim namun perbuatannya mengingkari apa yang telah di gariskan oleh Allah.

"Wa innal kazzabba yahdii ilal fuzur (Dan sesungguhnya dusta itu membawa kepada kejahatan)". Al Fuzur yaitu : keluar dari ketaatan kepada Allah. Karena insan berbuat fasiq, melebihi batasan yang Allah tentukan sehingga keluar dari ketaatan kepada Nya. Sementara fuzur yang terbesar ialah kafir.

Mereka orang-orang yang kafir sesungguhnya adalah durhaka. Sebagaimana firmanNya Q.S 80:42 " Mereka itulah orang-orang kafir lagi durhaka". Juga dalam ayat lain disebutkan Q.S 82:14 " Dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar dalam neraka".

Bohong adalah sebuah perkarang yang di laarang oleh Allah, sebagian ulama mengatakan : perbuatan itu adalah termasuk dosa-dosa besar, karena rasulullah telah menjanjikan bahwa yang berbuat bohong itu ditulis oleh Allah sebagai orang yang bohong.

Bohong yang paling besar adalah seseorang dengan menulis makalah berisi kebohongan belaka agar manusia itu terhibur dan tertawa atas tulisan tersebut. Rasulullah bersabda " Celakalah barang siapa berbicara dan berbohong agar kaum itu tertawa, celakalah dia, celakalah dia". Ini adalah ancaman bagi kebanyakkan manusia yang banyak memandang mudah perkara ini.

Semua yang berbentuk kebohongan adalah haram hukumnya, semua itu mengajak pada kesesatan. Kecuali pada tiga hal : pertama, dalam peperangan. Kedua, mendamaikan diantara manusia. Ketiga, mendamaikan kedua suami istri. Tiga hal tersebut yang boleh kita berbohong.

Kesulitan Buah Kenikmatan

Dari Abu Said dan Abu Hurairah ra dari nabi saw dimana beliau bersabda : " Seorang muslim yang tertimpa kecelakaan, kemelaratan, kegundahan, kesedihan, kesakitan maupun duka cita sampai-sampai pada tertusuk duri, niscaya Allah akan menebus dosanya dengan apa yang menimpanya itu". HR Bukhari dan Muslim.

Dalam kehidupan manusia selalu saja diiringi oleh kesenangan, kesulitan, kesedihan, kegundahan. Semua menyatu dalam menjalani kehidupan didunia. Bisa jadi satu hari gembira, besoknya sedih, besoknya gundah gulana. Semua serba kemungkinan dan akan terjadi, demikian yang kita alami dalam mengarungi kehidupan.

Namun perlu di ketahui bersama, bahwa semua itu adalah kenikmatan yang Allah berikan kepada manusia. Jikalau orang selalu gembira saja ataupun sedih saja maka hidupun akan terasa bosan. Allah memberikan segala kesulitan, musibah dll. Tidak lain adalah untuk menghapus dosa dan kesalahan-kesalahan manusia yang telah diperbuat baik di sengaja atau tidak.

Adalah sunnahtullah bahwa manusia tidak selamanya dalam keadaan gembira, selalu diiringi kesedihan atau musibah. Baik itu musibah dari diri sendiri berupa sakit, musibah badan seperti keseleo, musibah dalam masyarakat seperti lingkungannya tukang narkoba dan miras, musibah dalam keluarga seperti senang mengadu domba. Semua itu bagi seorang mukmin disikapi dengan baik, setiap musibah maka bersabar karena itu memang terbaik baginya. Ketika mendapat kegembiraan maka bersyukur dan juga terbaik buatnya.

Seorang mukmin selalu saja mensikapinya baik baginya, entah itu berupa musibah atau gembira. Karena semuanya itu adalah nikmat Allah yang diberikan kepadanya. Sekaligus membuktikan apakah yakin dengan apa yang Allah berikan terhadapnya, semua itu pasti terbaik bagi hambanya pada saat itu. Tidak ada musibah yang Allah berikan kepada hambanya, menjerumuskan kepada kenistaan atau kesengsaraan.

Musibah terbagi menjadi dua:

a. Apabila manusia ditimpa musibah, mengingat pahala dan menyerahkan sepenuhnya kepada Allah. Maka akan didapatkan pada diri seorang mukmin adalah pertama mengahapus dosa-dosa, kedua ditambahkannya kebaikan bagi dirinya.

b. Sekali-kali manusia lupa dengan musibah tersebut, sehingga menyempitkan dadanya. Lalai bahwa pahala dan menyerahkan penuh kepada Allah. Musibah tersebut semua itu akan dapat mengampuni dosa-dosanya.

Dalam kesempatan ini manusia akan memilih apakah dia akan mendapat keuntungan berupa dihapuskan kekejian dan dosa-dosanya. Atas kesabaran dan mengingat bahwa Allah akan memberikan pahala atas segala kesabarannya. Atau malah tidak mendapatkan apa-apa. Karena tidak sabar malah yang ada adalah umpatan dan hujatan terhadap nikmat yang Allah berikan kepadanya.

Seyogyanya manusia ketika mendapatkan musibah walaupun tertusuk duri, ingatlah bahwa itu adalah nikmat pemberian Allah kepadanya. Menyadari bahwa nikmat Allah itu menunjukkan wujud Allah dan kemulianNya. Dimana memberikan cobaan kepada mukmin kemudian ditetapkan baginya pahala terhadap mereka yang sabar dan meyakini keagungan Allah.

Friday, September 30, 2005

Tinggalkan Yang Membuat Ragu Anda

عَنْ أَبِي مُحَمَّدٍ الْحَسَنُ بْنُ عَلِي بْنِ أبِي طَالِبٍ سِبْطِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَيْحَانَتِهِ رَضِيَ الله عَنْهُمَا قَالَ : حَفِظْتُ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؛ دَعْ مَا يَرِيْبُكَ إِلَى مَا لاَ يَرِيْبُكَ .
رواه الترمذي وقال : حديث حسن صحيح
Terjemah hadits:
Dari Abu Muhammad Al Hasan bin Ali bin Abi Thalib, cucu Rasulullah e dan kesayangannya dia berkata : Saya menghafal dari Rasulullah e (sabdanya): Tinggalkanlah apa yang meragukanmu kepada apa yang tidak meragukanmu.
(Riwayat Turmuzi dan dia berkata: Haditsnya hasan shoheh)

Pelajaran:
1. Meninggalkan syubhat dan mengambil yang halal akan melahirkan sikap wara’.
2. Keluar dari ikhtilaf ulama lebih utama karena hal tersebut lebih terhindar dari perbuatan
syubhat, khususnya jika diantara pendapat mereka tidak ada yang dapat dikuatkan.
3. Jika keraguan bertentangan dengan keyakinan maka keyakinan yang diambil.
4. Sebuah perkara harus jelas berdasarkan keyakinan dan ketenangan. Tidak ada harganya
keraguan dan kebimbangan.
5. Berhati-hati dari sikap meremehkan terhadap urusan agama dan masalah bid’ah.
6. Siapa yang membiasakan perkara syubhat maka dia akan berani melakukan perbuatan
yang haram.

Tema hadits dan ayat yang terkait :
1. Meninggalkan keragu-raguan : 14 : 10, 49 : 15, 2 : 2