Pendidikan Akhlak Antara Islam Dan Globalisasi
Kelangsungan hidup dari generasi ke generasi merupakan sebuah mata
rantai yang akan silih berganti dalam mengarungi kehidupan. Akhlak
dalam skala individu tidaklah dapat dibendung ke ikut sertaannya
dalam mempengaruhi majunya sebuah umat. Maka pembentukkan akhlak
masing-masing individu merupakan kebutuhan yang sangat mendesak.
Jika dilihat dari sudut pandang agama dan peradaban manapun, tekanan
terhadap pendidikan akhlak adalah titik paling penting dalam rangka
menjaga kestabilitasan hidup sesama manusia dan penduduk bumi. Akhlak
adalah merupakan bagian dari identitas sebuah umat. Sudah barang
tentu masing-masing mempunyai parameter serta standar khusus dalam
menerapkan sistem akhlak dalam kehidupan.
Dalam sebuah syair dikatakan :
Sesungguhnya yang tersisa dari sebuah umat adalah Akhlaknya
Apabila hilang akhlaknya maka umat itu telah hilang
Maka yang tersisa dari sebuah umat serta peradaban dan sejarah adalah
akhlaknya. Apabila nilai-nilai akhlak tersebut hilang, maka akan
hilang nilai-nilai keindahan dan kemuliaan di tubuh umat. Tidak
terlihat diantara individu sebuah keharmonisan dan keindahan dalam
hidup, yang ada hanya saling sikut, baku hantam, menelan yang kecil
serta menjadi penguasa kala power itu lebih dari pada yang lainnya.
Dalam Islam sangatlah mendapatkan perhatian yang sungguh besar dalam masalah akhlak ini. Sebagaimana sabda nabi "Sempurnanya iman seorang mukmin adalah mempunyai akhlak yang bagus". Dalam riwayat yang lain dikatakan "Sesungguhnya yang dicintai olehku (nabi Muhammad) adalah mereka yang mempunyai akhlak yang bagus".
Sebagaimana Islam menganjurkan kepada umatnya untuk selalu menghiasi
dengan akhlak yang baik. Bukan menganjurkan kepada perbuatan yang
nista dan berakhlak bejat. Sungguh bukan merupakan keasingan bagi
umatnya tatkala anjuran ini di junjung tinggi, tapi sayangnya masih
banyak dari umatnya mengabaikannya, lagi mendustainya.
Bila melihat dari pada tujuan atau target pendidikan akhlak dari
globalisasi adalah menyiapkan individu-individu untuk hidup dan
berinteraksi dengan lainnya dan menikmati kehidupan di dunia saja.
Adapun tujuan pendidikan akhlak dari Islam adalah lebih jauh dari
itu yaitu merealisasikan individu-individu untuk hidup dan
berinteraksi dengan lainnya secara terhormat, sekaligus
merealisasikan keridhoan Allah untuk menggapai di akhirat dengan
tenang memasuki surganya.
Tidak diragukan lagi bahwa pendidikan akhlak mempunyai pendukung dan
penopang sebagai barometer penilaian baik dan buruk. Sudah barang
tentu penopang tersebut terangkum dalam kaidah-kaidah dan ketetapan
untuk mengartikan makna baik dan buruk. Sebagaimana juga dalam
membatasi atas ganjaran bagi yang melakukan kebaikan dan keburukan.
Dalam Islam tidak diragukan lagi, bahwa kaidah serta batasan dalam mengerjakan baik dan buruk telah tertera dalam nash-nash syariah (quran dan hadits). Sementara di luar Islam mereka meletakkan sistem penilaian baik dan buruk berdasarkan kepada kaidah (qowaid), sistem, kebiasan-kebiasaan di sekeliling mereka yang mana kemungkinan terdapat sebuah keniscayaan antara benar dan salah. Karena dilihat keterbatasan manusia.
Di dalam kaidah akhlak ada istilah dawafi (dorongan) dan mawani (larangan). Dawafi merupakan sebuah daya dorong bagi setiap individu untuk melaksanakan ahklak dengan baik dan benar. Islam telah menekankan hal ini dalam pendidikannya dengan jelas dan gamblang, sebagaimana meminta keridhoan Allah dalam rangka menggapai surganya. Ketika nabi ditanya tentang banyaknya manusia yang masuk surga, maka nabi menjawab "Taqwa kepada Allah dan akhlak yang bagus". Mawani adalah perkara yang membuat setiap individu terlarang untuk melakukan akhlak yang buruk
Penopang berikut dari pendidikan akhlak adalah adanya contoh teladan
yang ideal. Contoh tersebut sudah ada dalam Islam sebagaimana di
lakukan oleh nabi Muhammad. Walaupun tidak hidup orangnya, tapi
gambaran jelas tentang akhlak telah tercatat dalam quran dan hadist.
Umat yang tidak mempercayai kenabian Muhammad maka mereka tidak
memiliki keteladan mendunia didalam sektor ini.
Penopang selanjutnya adalah cocok dengan fitrah manusia. Globalisasi
tidak dapat mewakili akan hal ini. Terlihat di dunia sekarang banyak
akhlak-akhlak terjadi penyalah gunaan sehingga tidak sesuai dengan
fitrah manusia. Akan tetapi tarbiyah (pendidikan) akhlak yang
dibangun oleh Islam selamanya tidak akan bertentangan dengan fitrah
manusia.
Jadi tarbiyah akhlak Islam merupakan pendidikan yang memeliki syarat-
syarat penopang yang mendunia dan tujuan yang mulia. Sudah semestinya
Islam memimping dunia, tapi kapan?
Setelah mengetahui hal itu, muslimin mempunyai visi dalam menjunjung nilai akhlak Islami dalam realita kehidupannya. Bukan mereka malah mengajak kepada perkataan tapi dalam pelaksanaan adalah nihil belaka. Muslim bukan "No Action Talking Only" (NATO) tapi "Ibda' bi nafsika wad'u ghoirok" (Mulai dari diri sendiri dan ajak yang lain).
wallahua'lam bishawab

0 Comments:
Post a Comment
<< Home