Pengaruh Individu Dalam Kemajuan Umat

Diri kita sebagai bagian terpenting dalam kelangsungan sejarah umat manusia dan Islam khususnya. Indivindu muslim adalah pelaku sejarah dan kebangkitan umat Islam, sekaligus mempunyai andil besar bagi kelangsungan kalimatullah dimuka bumi ini.
Sebuah umat tidak akan terlepas dari individu muslim dalam meraih kesuksesan. Apabila umat itu sakit maka sudah barang tentu individunya terserang penyakit. Hilangnya wibawa hukum, undang-undang, negara, peradaban manusia, juga tidak terlepas dari penyakit individu. Apabila rusak akhlak sebuah negara dan tatanan masyarakat, biasanya tersebar dari individu yang terkena penyakit hati dan akhlaknya, kemudian menular keseluruh lapisan masyarakat.
Islam adalah merupakan agama yang lengkap dengan syariat, menyuruh kepada keseimbangan hidup serta menata kekuatan yang berbeda dalam masyarakat. Hingga terbentuk sebuah bangun umat kuat dan kokoh, tidak ada kelemahan atau celah dan kegamangan.
Terbentuk dari pada sistim masyarakat yang mempunyai kehidupan secara ekonomi, akhlak masyarakat kuat, membersihkan jiwa dan mendidik nafsu. Sehingga terbangun sebuah ikatan yang saling menghasihi dan menopang satu sama lainnya.
Pada titik terpentingnya nanti adalah membentuk kepribadian muslim yang mempunyai kekuatan masing-masing individu, baik itu kekuatan ruhnya, akhlaknya, jasmaninya. Maka nabi sangat menyukai seorang muslim yang kuat dari pada muslim lemah. Sebagaimana sabdanya " Muslim yang kuat lebih baik dari pada muslim yang lemah".
Dalam masyarakat sekarang ini, sangatlah krusial penyakit yang terjadi di tengah masyarakat modern. Tidak akan terbentuk sebuah kebangkitan dan tidak akan berbuat banyak, hanya jalan di tempat. Karena memang kondisi pada semua lini, baik individu, keluarga, lapisan masyarakat. Semuanya terjangkit penyakit, sehingga tidak bisa berbuat.
Titik awal dalam mengobati akhlak masyarakat, mulai dari pada individu masing-masing. Individu merupakan sosok awal untuk melangkah ke tahap berikutnya. Seruan Ishlahiah (perbaikan) dimulai dengan cara memperbaiki individu, bukan masyarakat langsung. jadi kalau ingin menanam sebuah pohon agar tumbuh dengan bagus, tentu bibitnya harus sehat tidak berpenyakit.
Ishlah (perbaikan) terhadap individu beberapa orang saja dalam sekup sebuah desa atau tempat. Akibatnya adalah luar biasa bagi perubahan dalam tatanan masyarakat setempat. Mereka yang sudah baik dalam pemahaman Islam akan menularkan kebaikan itu kepada masyarakat sehingga tetap dalam Istiqomah untuk menggapai hidayah Allah. Akan bersih sosial masyarakat itu akibat tercemar oleh kebaikan yang ditularkan oleh mereka yang berpegang teguh pada Allah.
Mereka yang membangun peradaban, negara, membrantas kejahiliahan (kebodohan), membuka wawasan ilmu, mereka yang merubah sejarah, peristiwa besar dalam hidup insani. Mereka-mereka adalah orang-orang yang terdiri dari : pertama, individu yang kuat kemauannya, kedua, Istiqomah akhlaknya dalam kebaikan, ketiga, hidupnya bersih dari pada penyakit diri dan hati.
Ketiga unsur tersebut merupakan penopang dalam rangka gerakan perbaikan (harakatul Ishlah), inqilab (perubahan total) masyarakat yang mulia. Masyarakat diibaratkan sebagai tubuh yang juga membutuhkan akal dan kepala untuk berpikir. Sama seperti mobil terbuat dari berbagai unsur terkecil dan besar, namun mobil tidak akan jalan apa bila tidak ada sopirnya. Begitulah istilahnya ketiga unsur itu adalah penopang kebaikan dalam tatanan masyarakat.
Dari pribadi yang sholeh selalu saja memikirkan bagaimana mencipatakan lingkungan yang baik, maka keinginan mendirikan mesjid, sekolahah, universitas, perkumpulan. Maka didirikan masjid, sekolah dan perkumpulan, adalah saling mendukung satu sama lainnya. Di masjid membangun jiwa, sekolah membangun akal, perkumpulan membangun akhlaknya. Ketika hilangnya fungsional dari pada ketiga komponen (masjid, sekolah, perkumpulan) maka akan terjadi kerusuhan, kegoncangan dalam kehidupan bermasyarakat.
Fungsi masjid mempunyai peranan yang terpenting dalam membentuk kepribadian yang sholeh. Dan fungsinya sebelum di bangun sekolah dan perkumpulan. Sebagaimana telah di contohkan oleh rasulullah ketika di Madinah, maka pertama yang dibangun oleh beliau adalah masjid. Sehingga dari masjid itu mengeluarkan para pahlawan yang benar-benar ingin memiliki masyarakat bersih dari kebodohan dan kerusakan. Bagaimana Abu Bakar, Umar, Ustman, Ali, Kholid bin Walid, Saad bin Abi Waqhos mereka adalah produk dari masjid yang rasul bangun.
Sejarah membuktikan bahwa dahulu fungsional masjid adalah multi guna, masjid sebagai sekolahan, tempat menyelesaikan perkara, latihan perang, berdagang, rapat, dll. Mesjid sebagai sekolahan adalah terbukti pada masjid-masjid besar seperti, Al Azhar, Madinah, Qordobah dan Umawi. Mereka belajar membentuk halaqoh-halaqoh (dibimbing satu guru). Sehingga di buktikan dalam sejarah bahwa masjid Qordobah (spanyol) memiliki ribuan tiang-tiang penyanggah, namun tiap tiang tersebut duduk seorang guru dan murid-murid belajar.
Dalam zaman modern ini penuh dengan penyakit-penyakit yang aneh terjadi, menurut ilmu psikologi terjadi kegalauan, kesedihan, stress, urat syarat terganggu, egois, kriminalitas akhlak. Semua ini memerlukan pengobatan yaitu kembali kepada agama. Memerlukan perjalan spiritual dengan menghidupkan masjid bagi masyarakat modern.
Maka nabi selalu saja menyuruh Bilal untuk mengumandangkan adzan bila masuk sholat tiba. Berkata "kabarkan berita gembira bagi kami ya Bilal". Itulah sifat nabi dalam menyambut sholat dengan hati gembira dan menginginkan serta menanti sholat demi sholat. Maka seorang ahli ibadah Ibrahim bin Adham ketika sholat malam bermunajat dan berkata " Kami dalam kenikmatan, seandainya para raja mengetahuinya maka kami akan di bunuh".
Kenikmatan dan ketenangan inilah sebenarnya yang diperlukan oleh para penderita penyakit di era golbalisasi. Telah hilang dari masyarakat sekarang dari neraca hak, keadilan, kemuliaan dalam sistem masyarakat adalah rasa tanggung jawab terhadap kenikmatan dalam beribadah.

0 Comments:
Post a Comment
<< Home