Thursday, September 01, 2005

Ananiyah dan It'sar

Apasih sebenarnya yang terdapat dalam diri manusia, sifat-sifat apa saja yang membuat mereka gembira, bahagia dan tentram. Juga sifat-sifat apa saja yang membuat mereka sengsara, terhina dan buruk dimata Allah.

Timbul pertanyaan apakah manusia annaiyah (egois) mencintai dirinya sendiri ketimbang kemaslahatan orang lain? ataukah mereka lebih It'sar (mendahulukan) kemaslahatan orang lain ketimbang kemaslahatan bagi dirinya? maka jika dikaji akan memakan waktu lama kalau dilihat dari ilmu psyikologi, moral dan ilmu sosial.

Para ilmuan mendefinisakan bahwa manusia sudah mempunyai dua sifat didalam dirinya yaitu ananiyah dan it'sar. Manusia tat kala mereka melihat adanya kemaslahatan bagi segenap manusia, maka didahulukan ketimbang maslahat pribadinya. Sementara disatu sisi ada yang melihat bahwa tadhiyah (pengorbanan), fidha (pembelaan) tidak lain adalah sebuah sifat egoistis pribadi.

Tidak dipungkiri lagi bahwa manusia itu adalah makhluk sosial, sudah barang tentu memerlukan ta'awun (gotong royong) atau bekerja sama. Lebih memilih untuk mementing kemaslahatan bersama ketimbang mengisolasi diri. Tidak bisa terlepas dari pada hak-hak orang lain, sehingga timbulnya manfaat bersama buah dari pada ta'awun diantara mereka. Dan terrealita adanya kemuliaan, kehormatan serta kemaslahatan bersama. Dikarenakan manusia tidak akan hidup mulia dan tenang tanpa terrealiasikan sifat ta'awun dan it'sar diantara mereka. Maka tadhiyah dan it'sar merupakan sebuah kebutuhan yang sangat penting dalam bermasyarakat dan itu harus terwujudkan bersama.

Kalaulah tidak terikat dengan sebuah sistem dalam kehidupan maka sudah barang tentu akan terjadi kekacauan. Adanya sifat ta'awun dan it'sar itulah yang melahirkan sistem hukum, hidup, bermasyarakat, interaksi dsb. bisa berjalan dengan lancar. kalaulah sifat kedua itu tidak ada dalam diri manusia, lebih memilih ananiyah maka yang timbul adalah kekacauan dan amburadul. masing-masing menginginkan kehendaknya agar teralisasikan dan terwujud.

Apabila pemakai jalan tidak ada peraturan dan tertegak sifat ta'awun dan it'sar maka apa yang akan terjadi. Antara pemakai jalan yang berkendaraan dengan pejalan kaki tidak ada yang mau mematuhi lampu merah, sudah barang tentu kekacuan dan kemacetan berkepanjangan, semeraut, kacau balau dan kasihannya lagi pejalan kaki akan terkena akibatnya, bisa jadi mangsa pengedara mobil.

Jika kita bermuamalah (interaksi) jual-beli, yang terpikirkan pada dirinya bagaimana tidak menerima barang dari orang lain, tidak mau berinteraksi dengan lainnya. Secara otomatis tidak mungkin kita mendapatkan keuntungan, juga tidak akan terpenuhi kebutuhan hidup.Serta tidak akan terwujud rasa aman diantara keduanya, jika tidak adanya rasa tadhiyah dan it'sar. Penjual memberikan harga dan melebihi sedikit dari modal produksi, tidak lain agar ada keuntungannya, pembeli mengeluarkan duitnya dan mendapatkan barang yang diinginkan. Jadi ada keridhoan juga ada rasa it'sar.

Sementar it'sar manusia terhadap diri kita kalau di hitung amatlah banyak. it'sar yang di puji oleh syariat dan dihormati oleh prinsip-prinsip akhlak. yaitu adanya it'sar memilih (ikhtiyar) didalam undang-undang, dan tidak dipaksakan. Bagaimana memberikan it'sar bagi mereka yang mememilih kehormatan ketimbang harta, meilih bercape-cape ria terhadap istirahat, menikmati lapar ketimbang kenyang, memilih mati dari pada hidup. Bukankah ini semua adalah bentuk keindahan dari pada tadhiyah, yang tidak lain adalah hanya menginginkan pahala dan pujian dari Allah.

Sesungguhnya kita membutuhkan kepada kesenangan, baik itu kesenangan hidup berupa materi atau non materi. itu semua sudah barang tentu bagi mereka yang memang mensifati dirinya dengan tadhiyah, it'sar dan fidha. kita membutuhkan listrik, mobil, pesawat terbang, siaran tv dan radio. Mereka para ilmuan yang jenius telah merelakan waktunya untuk meriset dan mengadakan ekperiment, mengorbankan waktu siang dan malam. Dalam rangka mempersembahkan yang terbaik bagi insan manusia untuk mempermudah, dan demi kelangsungan hidup di dunia. Kita bersama-sama bisa menikmati atas jerih payah mereka, bahkan beribu manusia dapat merasakan karya mereka. Itulah tadhiyah, fidha dan it'sar yang mereka persembahkan kepada kita.

Bagaimana juga kita membutuhkan kepada contoh orang-orang yang mengagungkan aqidah dan agama yang dengannya kita terhormat. Jika berbicara kenikmatan yang telah Allah berikan kepada kita berbentuk hidayah dan taufiknya. Maka para salafus shalih mereka yang mengemban risalah dakwah, tidak terlepas dari pada ujian berupa siksaan dan kehormatan. mengerahkan sekuat tenaga darah dan jiwa untuk menyebarkan agama bagi generasi sesudahnya, hingga akhirnya mereka mendapat pertolongan dari Allah atas perjuangan yang mereka lakukan.

Demikianlah kita hidup selalu membutuhkan kepada generasi pendahulu kita, dalam mengambil contoh. Kita bisa merasakan bagaimana tadhiah, fidha dan it'sar mereka hingga sekarang kita memetik hasilnya. Demikian generasi yang akan datang akan mengambil manfaat dari pada jerih payah kita tadhiah, fidha dan it'sar. Begitulah sirkulasi hidup, di setiap zaman, waktu, keadaan dan peristiwa. Ada saja membutuhkan kepada orang-orang yang ikhlas dalam mengemban misi hidup.

Sekarang yang menjadi pertanyaan bagi kita adalah apakah generasi sekarang mampu untuk menyelami arti fidha dan it'sar? apakah mereka menghiasi dirinya dengan akhlak yang telah di gariskan oleh syariat Allah dan undang-undang akhlak?

Kenyataan yang ada sekarang adalah bahwa manusia hidup dizaman ini seakan menghilangkan jejak, dari misi penciptaan manusia yang bagus dan sebaik-baiknya penciptaan. Dimana kita akan melihat ketika kita berjalan dan melihat disetiap sudut masyarakat sekarang, selalu saja kita mendapatkan perbuatan ananiah telah menguasasi pada setiap sisi. Kita mendapatkan bagaimana hubungan ananiyah seorang bapak menzhalimi anaknya dengan sewenang-wenang, mendapati seorang suami sewenang-wenang terhadap istrinya, seorang pemimpin sewenang-wenang terhadap rakyaknya, bagaimana ananiyah orang-orang kaya kepada masyarakat, pedagang hanya memikirkan dagangannya saja, petani juga hanya memikirkan tunaiannya, para pekerja dikantor hanya kasih sayang jika ada hubungan keluarga.

Pada sisi yang sama kita sesama insan memerlukan kebersamaan dalam memecahkan problematika hidup, agar selamat dari pada tragedi dan kemalangan. sehingga terpecahkan segala aral melintang dalam kehidupan ini. Kalaulah para insan didunia hanya memikirkan dirinya sendiri, maka yang tampak dalam kehidupan ini adalah adanya kesewenang-wenangan yang kental dalam tatanan kehidupan.

Ketika hijrahnya rasul bersama para sahabat, kaum mu'minin Makkah (muhajirin) di persaudarakan dengan mu'minin Madinah (anshor) oleh Rasul. Mempersaudarakan setiap anshor dengan seorang muhajir. Masing-masing anshor yang telah di persaudarakan, membawa saudaranya Muhajir kerumah masing-masing, dan membagi dua harta yang berada dirumahnya. Membagi baju, harta, makanan dan kendaraan.

Mereka ditempatkan dalam keluarga sebagai saudara sendiri. Sehingga para muhajir yang telah meninggalkan harta, sanak keluarga, ladang, tempat tinggalnya. merasakan jati dirinya kembali juga tidak ada rasa sungkan tinggal bersama saudara anshor yang baru dikenal tersebut.

Maka al quran mengabadikan peristiwa yang luar bisa bersejarah ini dalam surat Al Hasr : 9 " Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada (orang Muhajirin), dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.

Pada zaman khalifah Umar terjadi peristiwa musim paceklik dan kelaparan, Umar tidak tidur malam kecuali sedikit. Tidak dapat istirahat kecuali sedikit. Dalam dirinya selalu saja memikirkan bagaimana agar masyarakat terbebas dari lapar. Terus saja Umar kesehariannya memikirkan hingga sedikit dalam tidur, makan dan istirahat. Maka ketika orang melihatnya dan berkata "Kalaulah musim ini berkepanjangan hingga satu bulan kedepan maka Umar akan meninggal".

Suatu hari datanglah rombongan dari Mesir yang membawa daging, minyak samin, makanan dan pakaian. Mereka sendirilah yang membagi-bagikan kepada masyarakat, Umarpun juga ikut membagikannya. Sedangkan Umar menolak untuk makan barang-barang yang telah dibawa mereka.

Berkata kepada kepala rombongan " Kamu nanti makan di rumah saya, harapan orang itu akan menyantap makanan yang lezat. Mengira bahwa makanan amirul mukminin ini lebih baik dari yang lainnya. Tibalah mereka berdua di kediaman Umar. Kemudian diserukan untuk menyediakan makanan, maka tersedialah makanan tersebut. Betapa terkejutnya kepala rombongan tersebut, ternyata makanan yang di kira enak itu luluh, hilang seketika tat kala dihadapannya hanya sepotong roti hitam kering dan minyak ditaruhkan dipiring.

Terjadilah dialog diantar keduanya, kepala rombongan itu berkata "Kenapa Kamu melarangku untuk makan bersama orang-orang dengan daging dan samin, dan menyediakan makanan seperti ini. Umar berkata " Inilah makanan yang sehari-hari aku makan". Dia berkata "Apa yang melarang dirimu untuk tidak makan daging, samin. Padahal dirimu tadi yang telah membagikan makanan tersebut kepada mereka. Umar menjawab " Aku telah berjanji kepada diriku, untuk tidak merasakan samin dan daging hingga kaum muslimin kenyang dengan keduanya.

Wahai saudaraku muslimin dan muslimat ingat selalu firman Allah Al Insan 76:8-9

" Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang di tawan. Sesungguhnya kami memberikan makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih".

0 Comments:

Post a Comment

<< Home